Mengapa aparat keamanan di Indonesia kerap bentrok?

Mengapa aparat keamanan di Indonesia kerap bentrok?

332

Bentrokan antara aparat keamanan kembali terjadi di Tanah Air. Kali ini bentrokan terjadi antara anggota polisi dan Satpol PP di Makassar. Pertikaian yang mengakibatkan satu orang tewas, Bripda Michael Abraham Reuipassa (22) itu berawal dari cekcok di Pantai Losari.

Pada November tahun lalu, bentrokan antara TNI dan Polri terjadi di Lubuk Linggau. Dua anggota Kodam III Siliwangi, Edi Sutrisno (43) dan Deden (33 tahun) mengalami luka tembak. Ada juga dua anggota Polresta Lubuk Linggau AKP Arif Mansur dan Ipda Asri yang mengalami luka-luka karena dikeroyok. Peristiwa itu terjadi lantaran miskomunikasi antar dua kesatuan tersebut.

Pada Februari 2016, bentrokan antara anggota TNI dan Polri juga terjadi di Jalan Aspol, Desa Gamsungi, Kecamatan Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Utara. Tiga anggota TNI harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah, Tobelo, Halmahera Utara. Bentrokan bermula saat kedua pihak mendatangi pesta pernikahan dan terlibat percekcokan.

Bentrokan antara petugas keamanan yang terus terjadi ini seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah. Pasalnya, petugas keamanan sudah sepatutnya menjaga ketahanan negara maupun ketertiban di lingkungan masyarakat, bukan sebaliknya. Namun, tahukah apa yang menyebabkan bentrokan antara aparat keamanan kian marak terjadi?

Sosiolog, Musni Umar mengatakan pertikaian antara anggota Polri, TNI dan Satpol PP di Tanah Air dipicu beberapa hal. Di antaranya karena minimnya kedisiplinan dan rendahnya gaji.

“Kalau kita lihat bentrok yang terjadi antara TNI, Polri dan Satpol PP itu ada kecemburuan kepada polisi. Pertama, polisi bisa langsung bertindak kalau ada masalah di masyarakat, sementara Satpol PP harus menyerahkan dulu polisi. Kedua, mereka (polisi) lebih makmur dari Satpol PP dan TNI,” kata Musni saat berbincang dengan merdeka.com melalui sambungan telepon, Minggu (7/8) malam.

Selain itu, tidak adanya kegiatan terpadu antara TNI, Polri dan Satpol PP juga memicu terjadinya bentrokan. Seharusnya, kata Musni, kegiatan terpadu atau dialog bersama TNI, Polri dan Satpol PP rutin dilakukan agar terbangun hubungan emosional yang baik antara ketiga petugas keamanan tersebut.

Berikutnya, lanjut dia, karena rendahnya pendidikan Polri, TNI dan Satpol PP. Hanya sebagian kecil petugas keamanan yang mendapatkan pendidikan bela negara.

“Pola pendidikan Polri dan Satpol PP harus ditanamkan,” ujar dia.

Dengan demikian, Menurut Musni, pemerintah harus segera membenahi institusi tersebut. Polri, TNI dan Satpol PP mulai mengadakan kegiatan yang melibatkan seluruh anggotanya.

“TNI harus dibiasakan untuk membangun hubungan yang baik terutama mungkin latihan bersama atau melakukan kegiatan bersama, atau apa pun yang bisa mempertemukan mereka. tidak cukup hanya komandannya, tapi seluruh aparat di tingkat bawah,” jelasnya.

“Pemerintah mulai meningkatkan kesejahteraan. Tidak hanya menyejahterakan polisi tapi juga Satpol PP,” tambah dia.

Musni juga menyarankan agar Polri, TNI dan Satpol PP membangun kedisiplinan dalam diri. Kedisiplinan tidak hanya sebatas teori melainkan diterapkan dalam menjalankan tugas sebagai abdi negara.

“Berikutnya bagaimana menumbuhkan kesadaran bahwa mereka sama (sebagai aparat keamananan). Kesamaan itu yang harus dicari, perbedaan jangan dicari, perbedaan sudah pasti ada,” tuturnya.

Meski demikian, Wakil Rektor I Universitas Ibnu Chaldun ini menyayangkan sikap aparat keamanan yang tak berhenti bertikai. Polri, TNI dan Satpol PP yang digaji negara seharusnya memiliki tanggungjawab penuh untuk menjaga kedamaian di bumi pertiwi ini.

“Mereka ini orang yang digaji negara, nah kalau digaji maka sebaiknya terus menjaga kekompakan kedamaian . Rakyat saja tidak dapat gaji tetap manjaga kedamaian. Ini hal yang perlu dipahami, dihayati dan diamalkan Satpol PP, TNI dan Polri,” tutupnya.

Comment

SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY